Mantan Ketua Serikat Petani Karawang asal Pangkalan Loji itu kini menanam padi, mengelola kebun kopi dan durian, serta bergerak bersama Muhammadiyah membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bersekolah
KARAWANG — Perjalanan hidup Hilal Tamimi, mantan Ketua Sepetak (Serikat Petani Karawang) asal Pangkalan Loji, Kabupaten Karawang, menjadi gambaran pengabdian yang tidak berhenti meskipun medan perjuangannya telah berubah.
Dahulu, Hilal dikenal aktif mendampingi para petani dalam memperjuangkan hak atas tanah. Kini, ia memilih kembali ke alam, menanam padi, mengelola kebun kopi dan durian, serta mengabdikan tenaganya dalam berbagai kegiatan sosial bersama organisasi Muhammadiyah Kabupaten Karawang.
Berdasarkan catatan dan keterangan yang berkembang pada masa konflik tersebut, ketegangan meningkat setelah pengambilalihan lahan warga pada 24 Juli 2014. Proses tersebut disebut melibatkan aparat keamanan dan kelompok masyarakat nonformal sehingga memunculkan penolakan serta keresahan di kalangan petani.
Situasi semakin memanas ketika Sekretariat Sepetak di Desa Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur, dilaporkan dilempari bom molotov oleh orang tidak dikenal pada Kamis dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Peristiwa tersebut dipandang oleh para petani sebagai bagian dari rangkaian intimidasi yang mereka alami dalam mempertahankan tanah.
Pada 15 November 2014, empat orang perwakilan warga dari tiga desa memutuskan berjalan kaki dari Karawang menuju Istana Negara dengan mata tertutup. Aksi tersebut dilakukan sebagai simbol sulitnya memperoleh keadilan dan sebagai upaya menyampaikan langsung persoalan agraria kepada pemerintah pusat.
Ketika aksi berlangsung, Hilal Tamimi yang saat itu menjabat Ketua Umum Sepetak mengaku menerima pesan singkat berisi ancaman. Berdasarkan keterangannya, pesan tersebut meminta agar aksi dihentikan dan Sepetak tidak lagi mendampingi warga. Bahkan, terdapat ancaman bahwa seseorang di antara warga tiga desa akan menjadi korban apabila perjuangan tetap dilanjutkan.
Keterangan mengenai intimidasi dan keterlibatan berbagai pihak tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari catatan serta kesaksian pada masa konflik, bukan sebagai kesimpulan hukum terhadap pihak tertentu. Setiap dugaan tindak pidana maupun pelanggaran harus dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum yang berwenang.
Memilih Kembali Menjadi Petani
Setelah melewati perjalanan panjang dalam gerakan agraria, Hilal tidak lagi banyak melakukan aktivitas organisasi di pusat Kota Karawang. Ia memilih menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan tanah dan masyarakat perdesaan.
Menanam padi sejak pengolahan lahan hingga masa panen menjadi bagian dari kesehariannya. Selain itu, Hilal mengembangkan kebun kopi dan durian sebagai bentuk kemandirian sekaligus kecintaannya terhadap dunia pertanian.
Keputusan tersebut bukan berarti Hilal meninggalkan perjuangan. Ia hanya mengubah cara dan medan pengabdiannya. Jika dahulu perjuangannya banyak berlangsung melalui aksi serta pendampingan konflik pertanahan, kini perjuangan tersebut diwujudkan melalui kerja pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan sosial.
Pengalamannya mendampingi petani membuat Hilal memahami bahwa tanah bukan sekadar aset ekonomi. Bagi masyarakat kecil, tanah merupakan sumber kehidupan, tempat membangun keluarga, dan jalan untuk mempertahankan martabat.
Bersama Muhammadiyah Membantu Anak Putus Sekolah
Di tengah kesibukannya bertani dan mengelola kebun, Hilal juga aktif membantu kegiatan sosial bersama unsur Muhammadiyah di Kabupaten Karawang. Salah satu perhatian utamanya adalah membantu anak-anak dari keluarga miskin dan tidak mampu yang terancam putus sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak yang terkendala biaya diupayakan agar dapat kembali memperoleh pendidikan tanpa pungutan yang memberatkan keluarga. Bagi Hilal, kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seorang anak kehilangan masa depan.
Pengabdian di bidang pendidikan tersebut menjadi kelanjutan dari semangat keberpihakan yang selama ini ia pegang. Dahulu ia berdiri bersama petani yang mempertahankan tanah, sedangkan sekarang ia turut mendampingi keluarga kurang mampu dalam mempertahankan hak anak-anak mereka atas pendidikan.
Perjalanan Hilal Tamimi memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dijalankan melalui banyak jalan. Ia pernah berada di garis depan perjuangan agraria, menghadapi tekanan dan ancaman, kemudian kembali mengolah tanah serta menanam harapan melalui kebun dan sawah.
Kini, bersama gerakan sosial Muhammadiyah, Hilal berusaha memastikan bahwa anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap mempunyai kesempatan belajar. Dari sawah, kebun kopi, kebun durian hingga ruang-ruang pengabdian sosial, semangatnya tetap sama: hadir dan bekerja untuk masyarakat kecil.
Kisah tersebut menjadi catatan berharga tentang seorang mantan pemimpin organisasi petani yang memilih tetap mengabdi tanpa harus selalu tampil di pusat keramaian. Hilal Tamimi mungkin telah meninggalkan hiruk-pikuk aktivitas di Kota Karawang, tetapi perjuangannya tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berpindah medan—dari memperjuangkan tanah menuju menanam kehidupan dan menjaga masa depan pendidikan anak-anak yang membutuhkan.
( Redaksi Mediamandalika.net)
