Wayang Golek Giri Harja 2 Diusulkan Hadir di HUT Karawang ke-393, LBH Arya Mandalika: Bukan Sekadar Pertunjukan


KARAWANG MEDIAMANDALIKA.NET Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Arya Mandalika mengusulkan kehadiran Kyai H. Deden Kosasih Sunarya dari Giri Harja 2 dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 yang diperingati pada 14 September 2026.

Usulan tersebut tidak semata-mata untuk menghadirkan sebuah pertunjukan wayang golek. LBH Arya Mandalika mendorong agar momentum Hari Jadi Karawang dijadikan ruang untuk mengangkat kembali sejarah, kebudayaan, nilai-nilai kearifan lokal Sunda, serta hubungan erat masyarakat Karawang dengan tanah pertanian dan kehidupan agraris.

Presiden LBH Arya Mandalika, Hendra Arya Mandalika, S.H., M.H., menilai kebudayaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan pembangunan Karawang.

Menurutnya, narasi Hari Jadi Karawang sebaiknya dibangun melalui satu rangkaian sejarah, mulai dari jejak peradaban tua Karawang, tradisi Sunda, masyarakat agraris, warisan manuskrip Sunda Kuno, perkembangan Islam di Karawang, lahirnya Kabupaten Karawang, hingga identitas Karawang sebagai salah satu daerah penting dalam sektor pertanian dan industri.

“Karawang bukan hanya wilayah administratif. Karawang memiliki perjalanan peradaban yang panjang. Karena itu, Hari Jadi Karawang harus menjadi momentum untuk mengenang sejarah sekaligus melihat masa depan,” demikian gagasan yang disampaikan LBH Arya Mandalika dalam usulan kebudayaannya.

Wayang Golek sebagai Media Kebudayaan

LBH Arya Mandalika menilai Wayang Golek memiliki posisi strategis untuk menyampaikan pesan kebudayaan kepada masyarakat.

Wayang bukan hanya hiburan, tetapi juga memuat unsur cerita, bahasa Sunda, musik tradisional, seni rupa, sastra, pendidikan, etika, humor dan nilai kehidupan masyarakat.

Kehadiran Kyai H. Deden Kosasih Sunarya, putra Giri Harja 2, diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan warisan budaya Sunda dengan kehidupan masyarakat Karawang masa kini.

LBH Arya Mandalika juga menekankan pentingnya ketepatan informasi mengenai status Wayang dalam warisan budaya dunia. UNESCO mengakui Wayang Puppet Theatre Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda. Tradisi tersebut diproklamasikan pada 2003 dan masuk ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. Bentuk wayang tiga dimensi dari kayu, termasuk golek, merupakan bagian dari tradisi wayang tersebut.

Dengan demikian, usulan menghadirkan Wayang Golek tidak dimaksudkan sekadar sebagai hiburan dalam acara pemerintah, melainkan sebagai bagian dari pelestarian kebudayaan.

Menghubungkan Kearifan Sunda dengan Karawang MOTEKAR
Dalam manuskrip kebudayaan yang disiapkan LBH Arya Mandalika, terdapat gagasan untuk menghubungkan kearifan Sunda masa lalu dengan semangat Karawang MOTEKAR.

Nilai-nilai dalam manuskrip Sunda Kuno, termasuk Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Amanat Galunggung, dipandang memiliki relevansi untuk direnungkan kembali dalam kehidupan masyarakat modern.

Filosofi padi juga menjadi salah satu simbol penting dalam gagasan tersebut.

Karawang selama ini dikenal memiliki identitas agraris yang kuat. Padi tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

“Padi mengajarkan ketekunan, kesabaran, kerja sama dan kerendahan hati. Nilai-nilai itu selaras dengan semangat MOTEKAR,” menjadi salah satu pesan utama dalam manuskrip usulan tersebut.

Karawang MOTEKAR sendiri diarahkan pada semangat Maju, Optimis, Tangguh, Efektif, Kolaboratif, Adaptif dan Responsif.

Bagi LBH Arya Mandalika, pembangunan Karawang ke depan tidak harus mempertentangkan tradisi dengan modernitas. Pertanian dan industri, desa dan kota, budaya dan teknologi harus dapat berjalan beriringan.

Ruwat Hajat Bumi sebagai Ungkapan Syukur
Selain pagelaran Wayang Golek, LBH Arya Mandalika juga mengusulkan konsep Ruwat Hajat Bumi Karawang sebagai bagian dari pendekatan kebudayaan.

Konsep tersebut diarahkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap petani dan alam, pelestarian budaya serta doa untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Karawang.

LBH Arya Mandalika menegaskan bahwa pemaknaan Ruwat Hajat Bumi dalam konteks acara kebudayaan pemerintah perlu dikemas secara inklusif dan tidak dimaksudkan sebagai pemujaan terhadap benda atau praktik yang bertentangan dengan keyakinan agama.
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Usulan tersebut juga menempatkan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 sebagai momentum refleksi.

Menurut LBH Arya Mandalika, merawat Karawang bukan hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga menjaga sawah, air, lingkungan, sejarah, bahasa, kesenian, pendidikan, kehidupan petani serta kebudayaan masyarakat.

“Ngajaga Karuhun, Ngajaga Lembur, Ngamumulé Budaya, Ngawangun Karawang,” menjadi semangat yang ingin diangkat dalam gagasan tersebut.
LBH Arya Mandalika berharap usulan menghadirkan Kyai H. Deden Kosasih Sunarya bersama Giri Harja 2 dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang dan panitia Hari Jadi Karawang ke-393.

Bagi LBH Arya Mandalika, panggung kebudayaan dalam Hari Jadi Karawang bukan sekadar panggung hiburan. Panggung tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan antara sejarah, agama, budaya Sunda, kehidupan agraris dan semangat pembangunan Karawang masa kini.
Karawang MOTEKAR: maju dalam pembangunan, tetap berakar pada budaya, menjaga bumi dan mewariskan jati diri kepada generasi mendatang.