YOGYAKARTA – Sebanyak 640 becak motor (bentor) masih beroperasi di kawasan Malioboro dan terancam tidak lagi dapat melintas ketika kebijakan full pedestrian mulai diberlakukan pada akhir tahun 2026. Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan penertiban akan tetap dilakukan sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.
Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya (PKCB) Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, mengatakan bahwa pihaknya hanya bertugas melaksanakan kebijakan pemerintah dan tidak memiliki kewenangan untuk menunda penerapan kawasan bebas kendaraan bermotor di Malioboro.
"Kami sebagai eksekutor yang melaksanakan apa yang kemudian sudah ditetapkan," ujar Fitria Dyah Anggraeni saat dikonfirmasi, Jumat (31/7).
Menurutnya, apabila Malioboro resmi menjadi kawasan full pedestrian, UPT PKCB bersama Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta dan Satpol PP Kota Yogyakarta akan melakukan penertiban terhadap bentor yang masih beroperasi. Sosialisasi kepada para pengemudi juga terus dilakukan sebagai bagian dari persiapan penerapan kebijakan tersebut.
"Kami sifatnya pada saat bentor tidak diperbolehkan masuk, kami membantu menertibkan," tegasnya.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Yogyakarta, saat ini terdapat sekitar 900 unit bentor yang beroperasi di kawasan Malioboro. Dari jumlah tersebut, 260 unit telah dikonversi menjadi becak listrik (betrik), sehingga masih terdapat sekitar 640 bentor berbahan bakar minyak yang belum beralih.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menargetkan seluruh armada bentor telah bertransformasi menjadi becak listrik paling lambat pada tahun 2028. Untuk mendukung percepatan program tersebut, Pemkot Yogyakarta menyiapkan anggaran sekitar Rp10 miliar hingga Rp15 miliar dalam APBD Tahun 2027.
Menurut Hasto, dengan harga satu unit becak listrik sekitar Rp35 juta, anggaran tersebut diperkirakan mampu menyediakan sekitar 300 hingga 400 unit becak listrik.
Sebelumnya, ratusan pengemudi bentor mendatangi Kantor Dinas Perhubungan DIY untuk meminta agar kebijakan full pedestrian ditunda hingga seluruh armada bentor selesai dikonversi menjadi becak listrik. Mereka menilai bantuan konversi yang diberikan pemerintah masih sangat terbatas.
Ketua Paguyuban Becak Motor DIY, Parmin, menegaskan bahwa para pengemudi pada prinsipnya mendukung penataan Malioboro menjadi kawasan ramah pejalan kaki, namun berharap pemerintah juga memperhatikan keberlangsungan mata pencaharian mereka.
"Kami mendukung full pedestrian demi tercapainya kerja pemerintah, tapi jangan kami dikorbankan," ujarnya.
Para pengemudi berharap proses transisi menuju penggunaan becak listrik dapat dilakukan secara bertahap dengan dukungan bantuan yang memadai, sehingga kebijakan penataan kawasan Malioboro tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor transportasi wisata.
Penulis: Boy Mandalika
Editor: Wamdu Nur Fajar
